Minggu, 03 Mei 2009

Kaget

Beberapa hari terakhir ini banyak sekali orang yang gampang kaget. Ekspresi yang keluar juga macam-macam. Ada yang sekedar meloncat dan berteriak kencang ketika dia mendengar suara yang terlalu keras. Ada pula sebagian orang kaget ketika melihat hal-hal aneh, terutama yang baru pertama kali dilihat. Tetapi, baru-baru ini aku banyak menjumpai ekspresi kaget yang baru. Hal itu terutama terlihat dari orang yang baru saja mendapat jabatan.
Mereka mengekspresikan rasa kaget atas jabatan yang diterima dengan banyak cara. Jika semula mereka ramah dengan semua orang, tiba-tiba menjadi tertutup. Jalan juga selalu menunduk dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Hal itu berbanding terbalik dengan saat mereka mencari simpati pada masyarakat dulu. Senyum selalu mengembang di bibir. Jurus sok dekat dengan masyarakat juga dilancarkan. Tidak hanya pada orang yang dikenal, orang yang tak dikenal didatangi, berkenalan. Ujung-ujungnya meminta dukungan.
Ibarat virus, tentu ada masanya. Virus sok dekat itupun langsung berakhir ketika mereka mendapat jabatan yang dikehendaki. Jika semula sok dekat langsung cuek dengan orang lain. Toh sudah tidak diperlukan lagi.
Baru-baru ini aku menemukan ekspresi kaget yang keluar dari salah satu istri pejabat penting di Kota Kediri. Tentunya istri pejabat yang baru saja mendapat jabatan. Suatu malam aku pergi ke salah satu supermarket di Kota Kediri. Mataku yang sibuk mencari barang buruan, langsung tertuju pada perilaku aneh salah seorang perempuan yang berkerung. Betapa tidak, dia jalan menunduk dengan separo muka ditutup kerudung. Beberapa kali bola matanya tampak bergeser ke kanan dan ke kiri entah apa yang dicari.
Melihat tingkah anehnya, aku yang biasanya cuek dengan lingkungan langsung memperhatikan. Aku pikir separo mukanya terkena luka bakar hingga harus ditutupi sambil menunduk pula. Atau mungkin bibirnya sumbing hingga malu memperlihatkan di tempat umum. Setelah aku perhatikan mendalam, rupanya tebakanku salah semua. Perempuan yang menutupi mukanya itu sehat-sehat saja. Parasnya yang meski paruh baya masih sangat cantik dan segar.
Setelah melihat sosok gadis cantik yang sedang antri di kasir, aku baru menyadari identitas perempuan yang mukanya ditutupi kerudung dan selalu menunduk itu. Rupanya, dia adalah istri salah satu pejabat terpenting (terpenting itu relatif lho) di Kota Kediri. Niatku untuk menyapa perempuan yang memang sudah ku kenal sebelumnya itu langsung ku urungkan. Aku pun cuek mengantri di kasir yang terletak persis disampingnya.
Beberapa menit mengantri benakku langsung berkecamuk. Memikirkan maksud sang istri pejabat bertingkah demikian. Ada beberapa alternatif yang ada di otakku saat itu. Pertama, mungkin dia malu berada di supermarket dan belanja barang kebutuhan rumah tangga, meski sebelumnya dia biasa melakukan itu. Bukankah, setelah suaminya menjadi pejabat penting di Kota Kediri, dia tinggal memesan melalui telepon dan belanjanya bisa langsung diantar? atau kalau tidak mau repot bisa langsung menyuruh stafnya yang kerjaannya lebih banyak nyengir menyenangkan hatinya.
Kemungkinan kedua, istri pejabat itu takut menjadi korban perampokan (ih..emang kaya), karena sebagai istri pejabat tentu dia mempunyai banyak uang. Kemungkinan ketiga, dia takut dimintai tanda tangan dan foto bersama para pengunjung supermarket yang kebetulan didominasi para perempuan (emang banyak yang kenal? sok tenar bener!).
Terlepas dari semua kemungkinan itu, aku langsung tidak simpatik pada sang istri pejabat. Kalau memang tidak ingin tampil di publik dalam kondisi non formal, kenapa pula harus menampakkan diri (kayak hantu saja, penampakan). Lucunya, memakai mobil dinas pula. Bukankah tambah mudah dikenali (herrrann deh..). Tapi memang, aku lantas beranggapan bahwa ekspresi yang keluar dari perempuan itu karena dia terkaget-kaget dengan perubahan situasi yang baru dialaminya. Mendadak menjadi orang paling penting, mendadak dihormati banyak orang, mendadak dikenal banyak orang, dan mendadak mendadak lainnya. Boleh saja mengekspresikan rasa kaget sesukanya, tapi jangan terlalu lama. Dekatlah dengan rakyat, mereka yang memilihmu, yang membuatmu merasakan semua itu..sadarlah, jangan terlalu terbuai...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar