Bodoh..........Aku
Tolol............Aku
Dungu.........Aku
Bukan aku tak bisa, bukan pula karena aku tak mampu...
Bukan karena kemalasanku, bukan pula karena kelalaianku...
Bukan karena, ah...entah bagaimana harus mengumpamakannya...
Buta.............Mataku
Tuli..............Telingaku
Bisu..............Mulutku
Aku tetap bisa melihat sekeliling...tapi semuanya terasa gelap...
Aku tetap bisa mendengar suara hingga bising...tapi tetap saja terasa senyap...
Aku sudah berteriak, bahkan hingga suara serak...tapi tetap tak ada yang mendengarkan...
Kemana matamu?
Dimana telingamu?
Kenapa tetap saja tak menghiraukanku?
Mungkin suara musik itu memang terlalu kencang...hingga kau terhanyut dalam tarian...
Mungkin juga tidurmu terlalu lelap...hingga suara yang tak merdu ini tak lagi mengganggu...
Atau mungkin...ah jangan-jangan kamu telah mati...
Mati Hati................Tak bisa lagi menghalau ambisi
Mati Malu...............Tetap saja berbuat sesukamu
Mati Rasa................Tak memedulikan akibatnya
Tak sudi aku di belakangmu...
Tak sudi aku mengikutimu...
Tak sudi aku, meski sekadar mengakuimu...
Aku memang buta, maaf jika tak sengaja menendangmu...
Aku memang tuli, maaf jika aku tak pernah mendengarkan perkataanmu...
Aku memang bisu, maka biar kusimpan muak ini padamu...
Kamis, 06 Oktober 2011
Selasa, 02 Februari 2010
Idealisme
Idealisme itu kentut...jika sudah terasa idealnya segera dikeluarkan
Idealisme itu tai...jika sudah kebelet jangan coba untuk ditahan
Idealisme itu..............
Banyak orang mengklaim dirinya idealis. Banyak juga yang mengklaim dirinya konsisten.
Tapi idealis pada apa? idealis pada tataran yang seperti apa?
Idealis pada dirinya sendiri? idealis untuk kepentingannya sendiri?
Konsisten pada kemauanya sendiri? konsisten pada kekayaannya sendiri?
Idealisme itu hanya ada pada tiang listrik...karena hanya dia yang sampai sekarang tetap tegak.
Idealisme itu hanya ada pada benda-benda mati...yang tak bisa goyah dengan mimpi.
Idealisme itu...ah sekarang tinggal angan-angan saja....
Idealisme itu tai...jika sudah kebelet jangan coba untuk ditahan
Idealisme itu..............
Banyak orang mengklaim dirinya idealis. Banyak juga yang mengklaim dirinya konsisten.
Tapi idealis pada apa? idealis pada tataran yang seperti apa?
Idealis pada dirinya sendiri? idealis untuk kepentingannya sendiri?
Konsisten pada kemauanya sendiri? konsisten pada kekayaannya sendiri?
Idealisme itu hanya ada pada tiang listrik...karena hanya dia yang sampai sekarang tetap tegak.
Idealisme itu hanya ada pada benda-benda mati...yang tak bisa goyah dengan mimpi.
Idealisme itu...ah sekarang tinggal angan-angan saja....
Senin, 18 Januari 2010
Saat Terakhir
Lagu yang sebenarnya sangat tak kusuka
Tapi langsung menjadi begitu indah karena lagu ini mengantarkan aku padamu....
Mengantarkan aku pada setiap kenangan bersamamu
Karena memang...tak ada lagi kenangan-kenangan baru setelahnya...
Saat ini, sekarang ini...serasa kau menari-nari didepanku...
Senyummu, marahmu, hingga tangismu, tergambar jelas dimataku
Juga kerelaanmu menuruti setiap perintahku...
Kerelaanmu berbagi setiap cuil makanan yang nyaris masuk bibirmu
Kerelaanmu mendengarkan setiap marah dan makianku
Seperti malam itu, kau rela duduk menunggu di dipan reot itu sambil membawa buku tulis lusuhmu...
Aku masih ingat benar ekspresi wajahmu...setengah cemberut kau terus menggerakkan kaki dan tanganmu karena kelelahan...
Tapi, tetap saja kau tak beranjak...kau terus menungguku di tempat itu....
Kau memang penurut. Entah kau memang suka atau terpaksa...
Maka, kau menurut saja ketika kupaksa membaca beberapa kali kalimat yang sama..
Kau juga menurut saja ketika kuminta menghafal beberapa kata tiap harinya...
Bahkan, kau juga menurut saja ketika sesekali kucubit tanganmu....
Semua sikap kerasku, justru tak melunturkanmu...tapi membuatmu bersemangat...
Dan, memang, akhirnya dengan bangga kau bisa lepas dari sebutan bodoh! tolol!
Kaupun bisa masuk sekolah favorit. Hal yang tak bisa dilakukan kakak-kakakmu...
Aku terus membentakmu, aku terus memakimu.....
Aku berusaha membuka matamu akan indahnya mimpi, yang sekalipun tak pernah bisa kuraih...
Dan, sepertinya kau menyukainya. Sepertinya kau juga ingin mengejarnya...
Tapi, siang itu merusak semuanya...siang itu memupus semuanya.....
Siang itu pun merusak mimpi dan semua anganku...
Siang itu merusak kebanggaanku akan kamu.....
Siang itu...merusak satu sayap kebahagiaanku....
Jika memang itu takdir, maka aku sangat membencinya...
Seandainya bisa, aku ingin membalik semuanya...
Seandainya bisa, aku ingin kau menjelma.....
Saat itu, aku berjanji aku tak akan melepaskanmu....
Aku akan berada di dekatmu...menemanimu mengejar mimpimu.....
Dedicated to my lil bro, Sandi.............................................
Tapi langsung menjadi begitu indah karena lagu ini mengantarkan aku padamu....
Mengantarkan aku pada setiap kenangan bersamamu
Karena memang...tak ada lagi kenangan-kenangan baru setelahnya...
Saat ini, sekarang ini...serasa kau menari-nari didepanku...
Senyummu, marahmu, hingga tangismu, tergambar jelas dimataku
Juga kerelaanmu menuruti setiap perintahku...
Kerelaanmu berbagi setiap cuil makanan yang nyaris masuk bibirmu
Kerelaanmu mendengarkan setiap marah dan makianku
Seperti malam itu, kau rela duduk menunggu di dipan reot itu sambil membawa buku tulis lusuhmu...
Aku masih ingat benar ekspresi wajahmu...setengah cemberut kau terus menggerakkan kaki dan tanganmu karena kelelahan...
Tapi, tetap saja kau tak beranjak...kau terus menungguku di tempat itu....
Kau memang penurut. Entah kau memang suka atau terpaksa...
Maka, kau menurut saja ketika kupaksa membaca beberapa kali kalimat yang sama..
Kau juga menurut saja ketika kuminta menghafal beberapa kata tiap harinya...
Bahkan, kau juga menurut saja ketika sesekali kucubit tanganmu....
Semua sikap kerasku, justru tak melunturkanmu...tapi membuatmu bersemangat...
Dan, memang, akhirnya dengan bangga kau bisa lepas dari sebutan bodoh! tolol!
Kaupun bisa masuk sekolah favorit. Hal yang tak bisa dilakukan kakak-kakakmu...
Aku terus membentakmu, aku terus memakimu.....
Aku berusaha membuka matamu akan indahnya mimpi, yang sekalipun tak pernah bisa kuraih...
Dan, sepertinya kau menyukainya. Sepertinya kau juga ingin mengejarnya...
Tapi, siang itu merusak semuanya...siang itu memupus semuanya.....
Siang itu pun merusak mimpi dan semua anganku...
Siang itu merusak kebanggaanku akan kamu.....
Siang itu...merusak satu sayap kebahagiaanku....
Jika memang itu takdir, maka aku sangat membencinya...
Seandainya bisa, aku ingin membalik semuanya...
Seandainya bisa, aku ingin kau menjelma.....
Saat itu, aku berjanji aku tak akan melepaskanmu....
Aku akan berada di dekatmu...menemanimu mengejar mimpimu.....
Dedicated to my lil bro, Sandi.............................................
Sabtu, 02 Januari 2010
Masa Itu
Sepertinya aku masih ingin menjadi 22 tahun yang lalu. Aku ingin berenang dan menari disana. Begitu bebasnya.
Sepertinya aku masih ingin di rumah itu. Belajar dengan penerangan lampu minyak. Dua kakakku di sisi kanan dan kiriku. Mereka mengawasi setiap huruf yang coba ku lafalkan.
Sepertinya aku masih ingin disitu. Menaiki sepeda mini hitam yang sama sekali tak baru. Sepeda yang menemani setiap pagiku.
Aku rindu suasana itu, aku rindu keindahan itu. Aku rindu cerita dan kehangatan itu.
22 tahun tlah berlalu dan aku sadar tlah menyia-nyiakan semuanya. Aku tak menggunakannya.
22 tahun tlah berlalu dan aku tak mungkin kembali kesana. Ke teduh yang biru.
Sekarang aku disini. Menatap setiap mimpi...
Sekarang aku....................................................................
Sepertinya aku masih ingin di rumah itu. Belajar dengan penerangan lampu minyak. Dua kakakku di sisi kanan dan kiriku. Mereka mengawasi setiap huruf yang coba ku lafalkan.
Sepertinya aku masih ingin disitu. Menaiki sepeda mini hitam yang sama sekali tak baru. Sepeda yang menemani setiap pagiku.
Aku rindu suasana itu, aku rindu keindahan itu. Aku rindu cerita dan kehangatan itu.
22 tahun tlah berlalu dan aku sadar tlah menyia-nyiakan semuanya. Aku tak menggunakannya.
22 tahun tlah berlalu dan aku tak mungkin kembali kesana. Ke teduh yang biru.
Sekarang aku disini. Menatap setiap mimpi...
Sekarang aku....................................................................
Kamis, 12 November 2009
Tiga Tahun Lalu
Siang itu kulihat kamu tak seperti biasanya...
Senyum tipis yang biasanya tersungging di bibirmu sirna
Matamu tak lagi berbinar seperti sebelumnya...
Siang itu kamu benar-benar lain, bukan kamu yang biasanya
Matamu terpejam, mulutmu terkatup rapat..
Sesekali kulihat tangan dan kakimu bergerak
Ucapan-ucapan tak jelas juga beberapa kali terlontar
Pun kau tampak sadar..tidak demikian dengan dirimu
Siang itu kau tak lagi menghiraukanku...
Bahkan setelah kucium kakimu
Air mataku yang berlinang tetap tak menggugahmu...
Siang itu kau hanya terdiam..tak mempedulikan sekelilingmu
Entah itu maumu atau karena ketidakmampuanmu
Yang kurasa saat itu kau menyayatku...
Siang itu, tiga tahun yang lalu.. kau terbaring di ranjang itu...
Perban putih dipenuhi darah merah membalut di kepalamu
Kaus merah lusuh dipadu celana coklat selutut masih membalut tubuhmu
Dua baju itu menemanimu hingga terakhirmu..
Sore itu aku kembali memandikanmu...meski tak seperti biasanya
Aku tak perlu memegang tubuhmu karena takut terpeleset
Aku tak perlu memintamu memejamkan mata agar air sabun tak memedihkanmu
Aku juga tak perlu memukul pantatmu agar kau tak merepotkanku
Sore itu kau begitu tak biasa..kau hanya diam..
Mata dan mulutmu tertutup rapat...
Kau bahkan tetap diam saat gayung demi gayung menyiram tubuhmu
Bahkan kau hanya diam saat orang berusaha memegang lukamu...
Sore itu...terakhir kali aku melihatmu
Aku tak kuasa lagi melekatkan baju di tubuhmu
Aku tak kuasa lagi melihatmu..
Kepergianmu pun hanya bisa kulihat dari jauh
Malam itu...tiga tahun yang lalu kau meninggalkanku
Tak ada lagi tubuhmu disampingku...menemani tidurku
Tak ada lagi tawamu yang kurindukan, saat aku di rumah itu...
Malam itu, tiga hari sebelum ulang tahunku, kau menabur pilu...
Senyum tipis yang biasanya tersungging di bibirmu sirna
Matamu tak lagi berbinar seperti sebelumnya...
Siang itu kamu benar-benar lain, bukan kamu yang biasanya
Matamu terpejam, mulutmu terkatup rapat..
Sesekali kulihat tangan dan kakimu bergerak
Ucapan-ucapan tak jelas juga beberapa kali terlontar
Pun kau tampak sadar..tidak demikian dengan dirimu
Siang itu kau tak lagi menghiraukanku...
Bahkan setelah kucium kakimu
Air mataku yang berlinang tetap tak menggugahmu...
Siang itu kau hanya terdiam..tak mempedulikan sekelilingmu
Entah itu maumu atau karena ketidakmampuanmu
Yang kurasa saat itu kau menyayatku...
Siang itu, tiga tahun yang lalu.. kau terbaring di ranjang itu...
Perban putih dipenuhi darah merah membalut di kepalamu
Kaus merah lusuh dipadu celana coklat selutut masih membalut tubuhmu
Dua baju itu menemanimu hingga terakhirmu..
Sore itu aku kembali memandikanmu...meski tak seperti biasanya
Aku tak perlu memegang tubuhmu karena takut terpeleset
Aku tak perlu memintamu memejamkan mata agar air sabun tak memedihkanmu
Aku juga tak perlu memukul pantatmu agar kau tak merepotkanku
Sore itu kau begitu tak biasa..kau hanya diam..
Mata dan mulutmu tertutup rapat...
Kau bahkan tetap diam saat gayung demi gayung menyiram tubuhmu
Bahkan kau hanya diam saat orang berusaha memegang lukamu...
Sore itu...terakhir kali aku melihatmu
Aku tak kuasa lagi melekatkan baju di tubuhmu
Aku tak kuasa lagi melihatmu..
Kepergianmu pun hanya bisa kulihat dari jauh
Malam itu...tiga tahun yang lalu kau meninggalkanku
Tak ada lagi tubuhmu disampingku...menemani tidurku
Tak ada lagi tawamu yang kurindukan, saat aku di rumah itu...
Malam itu, tiga hari sebelum ulang tahunku, kau menabur pilu...
Kamis, 20 Agustus 2009
Ramadan
Ramadan bagiku punya banyak makna. Saat masih duduk di bangku SD, aku menyambut datangnya ramadan dengan penuh sukacita. Ada dua hal yang membuatku senang. Pertama adalah menu makanan yang cenderung lebih 'istimewa' dibanding biasanya. Kedua, lebaran. Banyak kue dan baju baru. Silaturrahmi ke rumah tetangga dan mendapat uang saku. I love ramadan, i love lebaran.
Menginjak bangku SMP, aku tetap suka cita menyambut ramadan. Baju baru dan menu makanan istimewa tetap menjadi favoritku. Apalagi, menginjak SMP aku sudah diberi kebebasan membeli sendiri baju yang kusuka (biasanya dibelikan). Saat masuk SMP aku mulai diwajibkan berpuasa. Tetapi, karena jarak sekolah dan rumahku mencapai tujuh kilometer dan aku menempuhnya dengan bersepeda, kenakalanku seringkali timbul. Ditengah jalan aku seringkali minum atau makan. Setibanya dekat rumah langsung 'merapikan' mulut dan 'berpuasa'. Toh orangtuaku tidak tahu.
Masuk bangku SMA seharusnya aku sudah dewasa. Tetapi, rupanya tidak demikian. Aku hanya berpuasa penuh dalam separo bulan saja. Selebihnya, bolos. Itupun tak pernah ku bayar pasca ramadan. Yang ada di benakku masih sama. Baju baru dan kemeriahan lebaran.
Di bangku kuliah mulai sedikit ada peningkatan. Dengan lingkungan yang relatif islami aku hanya bolos sekitar seminggu (diskon khusus perempuan). Tetapi, hutang yang seharusnya ku bayar itu tetap saja menjadi hutang!
Lulus kuliah dan masuk dunia kerja aku kembali lepas kendali. nikmatnya mendapat baju baru dari orangtuaku tak lagi terpikirkan. Aku sudah harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri. Ramadan kali itu, aku bolos hingga belasan hari.Toh tidak ada yang tahu. Tidak ada yang memarahiku. Di kantor pun aku pura-pura berpuasa dan berbuka puasa bersama teman-teman di kantor. Mereka juga tetap tidak tahu.
Ramadan yang akan jatuh besok adalah ramadan pertama bersama suamiku (mantan pacarku). Jika semula (saat pacaran) dia selalu membelikanku makan sahur, sekarang kami tinggal serumah. Hidup bersama. Serasa ada hal yang baru. Tapi banyak juga yang hilang. Aku menyambut ramadan dengan suka cita. Tetapi, serasa ada beban yang menggelayut di otakku. Yang bahkan tak bisa kuceritakan pada siapapun.
Ya Allah..di usiaku yang hampir 28 tahun November nanti, aku masih bukan apa-apa
Aku hanya hambamu yang berlumur dosa
Aku yang dulu merasa dekat denganMu, kini justru semakin menjauh
Ampuni hamba ya Allah..Mohon ampuni semua kesalahan hamba
Hamba sadar..hamba telah terbuai. Hamba sadar hamba telah lalai
Jika semua ini hanya menjauhkanku dariMu, mohon beri hamba sesuatu yang baru
Sesuatu yang bisa mendekatkan hamba denganMu, dengan keluarga hamba
Sesuatu yang membuat hamba bisa menyentuhMu kelak
Marhaban ya ramadan..terima kasih telah memberi kesempatan untuk bercumbu denganmu tahun ini.....
Menginjak bangku SMP, aku tetap suka cita menyambut ramadan. Baju baru dan menu makanan istimewa tetap menjadi favoritku. Apalagi, menginjak SMP aku sudah diberi kebebasan membeli sendiri baju yang kusuka (biasanya dibelikan). Saat masuk SMP aku mulai diwajibkan berpuasa. Tetapi, karena jarak sekolah dan rumahku mencapai tujuh kilometer dan aku menempuhnya dengan bersepeda, kenakalanku seringkali timbul. Ditengah jalan aku seringkali minum atau makan. Setibanya dekat rumah langsung 'merapikan' mulut dan 'berpuasa'. Toh orangtuaku tidak tahu.
Masuk bangku SMA seharusnya aku sudah dewasa. Tetapi, rupanya tidak demikian. Aku hanya berpuasa penuh dalam separo bulan saja. Selebihnya, bolos. Itupun tak pernah ku bayar pasca ramadan. Yang ada di benakku masih sama. Baju baru dan kemeriahan lebaran.
Di bangku kuliah mulai sedikit ada peningkatan. Dengan lingkungan yang relatif islami aku hanya bolos sekitar seminggu (diskon khusus perempuan). Tetapi, hutang yang seharusnya ku bayar itu tetap saja menjadi hutang!
Lulus kuliah dan masuk dunia kerja aku kembali lepas kendali. nikmatnya mendapat baju baru dari orangtuaku tak lagi terpikirkan. Aku sudah harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri. Ramadan kali itu, aku bolos hingga belasan hari.Toh tidak ada yang tahu. Tidak ada yang memarahiku. Di kantor pun aku pura-pura berpuasa dan berbuka puasa bersama teman-teman di kantor. Mereka juga tetap tidak tahu.
Ramadan yang akan jatuh besok adalah ramadan pertama bersama suamiku (mantan pacarku). Jika semula (saat pacaran) dia selalu membelikanku makan sahur, sekarang kami tinggal serumah. Hidup bersama. Serasa ada hal yang baru. Tapi banyak juga yang hilang. Aku menyambut ramadan dengan suka cita. Tetapi, serasa ada beban yang menggelayut di otakku. Yang bahkan tak bisa kuceritakan pada siapapun.
Ya Allah..di usiaku yang hampir 28 tahun November nanti, aku masih bukan apa-apa
Aku hanya hambamu yang berlumur dosa
Aku yang dulu merasa dekat denganMu, kini justru semakin menjauh
Ampuni hamba ya Allah..Mohon ampuni semua kesalahan hamba
Hamba sadar..hamba telah terbuai. Hamba sadar hamba telah lalai
Jika semua ini hanya menjauhkanku dariMu, mohon beri hamba sesuatu yang baru
Sesuatu yang bisa mendekatkan hamba denganMu, dengan keluarga hamba
Sesuatu yang membuat hamba bisa menyentuhMu kelak
Marhaban ya ramadan..terima kasih telah memberi kesempatan untuk bercumbu denganmu tahun ini.....
Minggu, 03 Mei 2009
Kaget
Beberapa hari terakhir ini banyak sekali orang yang gampang kaget. Ekspresi yang keluar juga macam-macam. Ada yang sekedar meloncat dan berteriak kencang ketika dia mendengar suara yang terlalu keras. Ada pula sebagian orang kaget ketika melihat hal-hal aneh, terutama yang baru pertama kali dilihat. Tetapi, baru-baru ini aku banyak menjumpai ekspresi kaget yang baru. Hal itu terutama terlihat dari orang yang baru saja mendapat jabatan.
Mereka mengekspresikan rasa kaget atas jabatan yang diterima dengan banyak cara. Jika semula mereka ramah dengan semua orang, tiba-tiba menjadi tertutup. Jalan juga selalu menunduk dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Hal itu berbanding terbalik dengan saat mereka mencari simpati pada masyarakat dulu. Senyum selalu mengembang di bibir. Jurus sok dekat dengan masyarakat juga dilancarkan. Tidak hanya pada orang yang dikenal, orang yang tak dikenal didatangi, berkenalan. Ujung-ujungnya meminta dukungan.
Ibarat virus, tentu ada masanya. Virus sok dekat itupun langsung berakhir ketika mereka mendapat jabatan yang dikehendaki. Jika semula sok dekat langsung cuek dengan orang lain. Toh sudah tidak diperlukan lagi.
Baru-baru ini aku menemukan ekspresi kaget yang keluar dari salah satu istri pejabat penting di Kota Kediri. Tentunya istri pejabat yang baru saja mendapat jabatan. Suatu malam aku pergi ke salah satu supermarket di Kota Kediri. Mataku yang sibuk mencari barang buruan, langsung tertuju pada perilaku aneh salah seorang perempuan yang berkerung. Betapa tidak, dia jalan menunduk dengan separo muka ditutup kerudung. Beberapa kali bola matanya tampak bergeser ke kanan dan ke kiri entah apa yang dicari.
Melihat tingkah anehnya, aku yang biasanya cuek dengan lingkungan langsung memperhatikan. Aku pikir separo mukanya terkena luka bakar hingga harus ditutupi sambil menunduk pula. Atau mungkin bibirnya sumbing hingga malu memperlihatkan di tempat umum. Setelah aku perhatikan mendalam, rupanya tebakanku salah semua. Perempuan yang menutupi mukanya itu sehat-sehat saja. Parasnya yang meski paruh baya masih sangat cantik dan segar.
Setelah melihat sosok gadis cantik yang sedang antri di kasir, aku baru menyadari identitas perempuan yang mukanya ditutupi kerudung dan selalu menunduk itu. Rupanya, dia adalah istri salah satu pejabat terpenting (terpenting itu relatif lho) di Kota Kediri. Niatku untuk menyapa perempuan yang memang sudah ku kenal sebelumnya itu langsung ku urungkan. Aku pun cuek mengantri di kasir yang terletak persis disampingnya.
Beberapa menit mengantri benakku langsung berkecamuk. Memikirkan maksud sang istri pejabat bertingkah demikian. Ada beberapa alternatif yang ada di otakku saat itu. Pertama, mungkin dia malu berada di supermarket dan belanja barang kebutuhan rumah tangga, meski sebelumnya dia biasa melakukan itu. Bukankah, setelah suaminya menjadi pejabat penting di Kota Kediri, dia tinggal memesan melalui telepon dan belanjanya bisa langsung diantar? atau kalau tidak mau repot bisa langsung menyuruh stafnya yang kerjaannya lebih banyak nyengir menyenangkan hatinya.
Kemungkinan kedua, istri pejabat itu takut menjadi korban perampokan (ih..emang kaya), karena sebagai istri pejabat tentu dia mempunyai banyak uang. Kemungkinan ketiga, dia takut dimintai tanda tangan dan foto bersama para pengunjung supermarket yang kebetulan didominasi para perempuan (emang banyak yang kenal? sok tenar bener!).
Terlepas dari semua kemungkinan itu, aku langsung tidak simpatik pada sang istri pejabat. Kalau memang tidak ingin tampil di publik dalam kondisi non formal, kenapa pula harus menampakkan diri (kayak hantu saja, penampakan). Lucunya, memakai mobil dinas pula. Bukankah tambah mudah dikenali (herrrann deh..). Tapi memang, aku lantas beranggapan bahwa ekspresi yang keluar dari perempuan itu karena dia terkaget-kaget dengan perubahan situasi yang baru dialaminya. Mendadak menjadi orang paling penting, mendadak dihormati banyak orang, mendadak dikenal banyak orang, dan mendadak mendadak lainnya. Boleh saja mengekspresikan rasa kaget sesukanya, tapi jangan terlalu lama. Dekatlah dengan rakyat, mereka yang memilihmu, yang membuatmu merasakan semua itu..sadarlah, jangan terlalu terbuai...
Mereka mengekspresikan rasa kaget atas jabatan yang diterima dengan banyak cara. Jika semula mereka ramah dengan semua orang, tiba-tiba menjadi tertutup. Jalan juga selalu menunduk dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Hal itu berbanding terbalik dengan saat mereka mencari simpati pada masyarakat dulu. Senyum selalu mengembang di bibir. Jurus sok dekat dengan masyarakat juga dilancarkan. Tidak hanya pada orang yang dikenal, orang yang tak dikenal didatangi, berkenalan. Ujung-ujungnya meminta dukungan.
Ibarat virus, tentu ada masanya. Virus sok dekat itupun langsung berakhir ketika mereka mendapat jabatan yang dikehendaki. Jika semula sok dekat langsung cuek dengan orang lain. Toh sudah tidak diperlukan lagi.
Baru-baru ini aku menemukan ekspresi kaget yang keluar dari salah satu istri pejabat penting di Kota Kediri. Tentunya istri pejabat yang baru saja mendapat jabatan. Suatu malam aku pergi ke salah satu supermarket di Kota Kediri. Mataku yang sibuk mencari barang buruan, langsung tertuju pada perilaku aneh salah seorang perempuan yang berkerung. Betapa tidak, dia jalan menunduk dengan separo muka ditutup kerudung. Beberapa kali bola matanya tampak bergeser ke kanan dan ke kiri entah apa yang dicari.
Melihat tingkah anehnya, aku yang biasanya cuek dengan lingkungan langsung memperhatikan. Aku pikir separo mukanya terkena luka bakar hingga harus ditutupi sambil menunduk pula. Atau mungkin bibirnya sumbing hingga malu memperlihatkan di tempat umum. Setelah aku perhatikan mendalam, rupanya tebakanku salah semua. Perempuan yang menutupi mukanya itu sehat-sehat saja. Parasnya yang meski paruh baya masih sangat cantik dan segar.
Setelah melihat sosok gadis cantik yang sedang antri di kasir, aku baru menyadari identitas perempuan yang mukanya ditutupi kerudung dan selalu menunduk itu. Rupanya, dia adalah istri salah satu pejabat terpenting (terpenting itu relatif lho) di Kota Kediri. Niatku untuk menyapa perempuan yang memang sudah ku kenal sebelumnya itu langsung ku urungkan. Aku pun cuek mengantri di kasir yang terletak persis disampingnya.
Beberapa menit mengantri benakku langsung berkecamuk. Memikirkan maksud sang istri pejabat bertingkah demikian. Ada beberapa alternatif yang ada di otakku saat itu. Pertama, mungkin dia malu berada di supermarket dan belanja barang kebutuhan rumah tangga, meski sebelumnya dia biasa melakukan itu. Bukankah, setelah suaminya menjadi pejabat penting di Kota Kediri, dia tinggal memesan melalui telepon dan belanjanya bisa langsung diantar? atau kalau tidak mau repot bisa langsung menyuruh stafnya yang kerjaannya lebih banyak nyengir menyenangkan hatinya.
Kemungkinan kedua, istri pejabat itu takut menjadi korban perampokan (ih..emang kaya), karena sebagai istri pejabat tentu dia mempunyai banyak uang. Kemungkinan ketiga, dia takut dimintai tanda tangan dan foto bersama para pengunjung supermarket yang kebetulan didominasi para perempuan (emang banyak yang kenal? sok tenar bener!).
Terlepas dari semua kemungkinan itu, aku langsung tidak simpatik pada sang istri pejabat. Kalau memang tidak ingin tampil di publik dalam kondisi non formal, kenapa pula harus menampakkan diri (kayak hantu saja, penampakan). Lucunya, memakai mobil dinas pula. Bukankah tambah mudah dikenali (herrrann deh..). Tapi memang, aku lantas beranggapan bahwa ekspresi yang keluar dari perempuan itu karena dia terkaget-kaget dengan perubahan situasi yang baru dialaminya. Mendadak menjadi orang paling penting, mendadak dihormati banyak orang, mendadak dikenal banyak orang, dan mendadak mendadak lainnya. Boleh saja mengekspresikan rasa kaget sesukanya, tapi jangan terlalu lama. Dekatlah dengan rakyat, mereka yang memilihmu, yang membuatmu merasakan semua itu..sadarlah, jangan terlalu terbuai...
Langganan:
Postingan (Atom)
