Ramadan bagiku punya banyak makna. Saat masih duduk di bangku SD, aku menyambut datangnya ramadan dengan penuh sukacita. Ada dua hal yang membuatku senang. Pertama adalah menu makanan yang cenderung lebih 'istimewa' dibanding biasanya. Kedua, lebaran. Banyak kue dan baju baru. Silaturrahmi ke rumah tetangga dan mendapat uang saku. I love ramadan, i love lebaran.
Menginjak bangku SMP, aku tetap suka cita menyambut ramadan. Baju baru dan menu makanan istimewa tetap menjadi favoritku. Apalagi, menginjak SMP aku sudah diberi kebebasan membeli sendiri baju yang kusuka (biasanya dibelikan). Saat masuk SMP aku mulai diwajibkan berpuasa. Tetapi, karena jarak sekolah dan rumahku mencapai tujuh kilometer dan aku menempuhnya dengan bersepeda, kenakalanku seringkali timbul. Ditengah jalan aku seringkali minum atau makan. Setibanya dekat rumah langsung 'merapikan' mulut dan 'berpuasa'. Toh orangtuaku tidak tahu.
Masuk bangku SMA seharusnya aku sudah dewasa. Tetapi, rupanya tidak demikian. Aku hanya berpuasa penuh dalam separo bulan saja. Selebihnya, bolos. Itupun tak pernah ku bayar pasca ramadan. Yang ada di benakku masih sama. Baju baru dan kemeriahan lebaran.
Di bangku kuliah mulai sedikit ada peningkatan. Dengan lingkungan yang relatif islami aku hanya bolos sekitar seminggu (diskon khusus perempuan). Tetapi, hutang yang seharusnya ku bayar itu tetap saja menjadi hutang!
Lulus kuliah dan masuk dunia kerja aku kembali lepas kendali. nikmatnya mendapat baju baru dari orangtuaku tak lagi terpikirkan. Aku sudah harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri. Ramadan kali itu, aku bolos hingga belasan hari.Toh tidak ada yang tahu. Tidak ada yang memarahiku. Di kantor pun aku pura-pura berpuasa dan berbuka puasa bersama teman-teman di kantor. Mereka juga tetap tidak tahu.
Ramadan yang akan jatuh besok adalah ramadan pertama bersama suamiku (mantan pacarku). Jika semula (saat pacaran) dia selalu membelikanku makan sahur, sekarang kami tinggal serumah. Hidup bersama. Serasa ada hal yang baru. Tapi banyak juga yang hilang. Aku menyambut ramadan dengan suka cita. Tetapi, serasa ada beban yang menggelayut di otakku. Yang bahkan tak bisa kuceritakan pada siapapun.
Ya Allah..di usiaku yang hampir 28 tahun November nanti, aku masih bukan apa-apa
Aku hanya hambamu yang berlumur dosa
Aku yang dulu merasa dekat denganMu, kini justru semakin menjauh
Ampuni hamba ya Allah..Mohon ampuni semua kesalahan hamba
Hamba sadar..hamba telah terbuai. Hamba sadar hamba telah lalai
Jika semua ini hanya menjauhkanku dariMu, mohon beri hamba sesuatu yang baru
Sesuatu yang bisa mendekatkan hamba denganMu, dengan keluarga hamba
Sesuatu yang membuat hamba bisa menyentuhMu kelak
Marhaban ya ramadan..terima kasih telah memberi kesempatan untuk bercumbu denganmu tahun ini.....
Kamis, 20 Agustus 2009
Minggu, 03 Mei 2009
Kaget
Beberapa hari terakhir ini banyak sekali orang yang gampang kaget. Ekspresi yang keluar juga macam-macam. Ada yang sekedar meloncat dan berteriak kencang ketika dia mendengar suara yang terlalu keras. Ada pula sebagian orang kaget ketika melihat hal-hal aneh, terutama yang baru pertama kali dilihat. Tetapi, baru-baru ini aku banyak menjumpai ekspresi kaget yang baru. Hal itu terutama terlihat dari orang yang baru saja mendapat jabatan.
Mereka mengekspresikan rasa kaget atas jabatan yang diterima dengan banyak cara. Jika semula mereka ramah dengan semua orang, tiba-tiba menjadi tertutup. Jalan juga selalu menunduk dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Hal itu berbanding terbalik dengan saat mereka mencari simpati pada masyarakat dulu. Senyum selalu mengembang di bibir. Jurus sok dekat dengan masyarakat juga dilancarkan. Tidak hanya pada orang yang dikenal, orang yang tak dikenal didatangi, berkenalan. Ujung-ujungnya meminta dukungan.
Ibarat virus, tentu ada masanya. Virus sok dekat itupun langsung berakhir ketika mereka mendapat jabatan yang dikehendaki. Jika semula sok dekat langsung cuek dengan orang lain. Toh sudah tidak diperlukan lagi.
Baru-baru ini aku menemukan ekspresi kaget yang keluar dari salah satu istri pejabat penting di Kota Kediri. Tentunya istri pejabat yang baru saja mendapat jabatan. Suatu malam aku pergi ke salah satu supermarket di Kota Kediri. Mataku yang sibuk mencari barang buruan, langsung tertuju pada perilaku aneh salah seorang perempuan yang berkerung. Betapa tidak, dia jalan menunduk dengan separo muka ditutup kerudung. Beberapa kali bola matanya tampak bergeser ke kanan dan ke kiri entah apa yang dicari.
Melihat tingkah anehnya, aku yang biasanya cuek dengan lingkungan langsung memperhatikan. Aku pikir separo mukanya terkena luka bakar hingga harus ditutupi sambil menunduk pula. Atau mungkin bibirnya sumbing hingga malu memperlihatkan di tempat umum. Setelah aku perhatikan mendalam, rupanya tebakanku salah semua. Perempuan yang menutupi mukanya itu sehat-sehat saja. Parasnya yang meski paruh baya masih sangat cantik dan segar.
Setelah melihat sosok gadis cantik yang sedang antri di kasir, aku baru menyadari identitas perempuan yang mukanya ditutupi kerudung dan selalu menunduk itu. Rupanya, dia adalah istri salah satu pejabat terpenting (terpenting itu relatif lho) di Kota Kediri. Niatku untuk menyapa perempuan yang memang sudah ku kenal sebelumnya itu langsung ku urungkan. Aku pun cuek mengantri di kasir yang terletak persis disampingnya.
Beberapa menit mengantri benakku langsung berkecamuk. Memikirkan maksud sang istri pejabat bertingkah demikian. Ada beberapa alternatif yang ada di otakku saat itu. Pertama, mungkin dia malu berada di supermarket dan belanja barang kebutuhan rumah tangga, meski sebelumnya dia biasa melakukan itu. Bukankah, setelah suaminya menjadi pejabat penting di Kota Kediri, dia tinggal memesan melalui telepon dan belanjanya bisa langsung diantar? atau kalau tidak mau repot bisa langsung menyuruh stafnya yang kerjaannya lebih banyak nyengir menyenangkan hatinya.
Kemungkinan kedua, istri pejabat itu takut menjadi korban perampokan (ih..emang kaya), karena sebagai istri pejabat tentu dia mempunyai banyak uang. Kemungkinan ketiga, dia takut dimintai tanda tangan dan foto bersama para pengunjung supermarket yang kebetulan didominasi para perempuan (emang banyak yang kenal? sok tenar bener!).
Terlepas dari semua kemungkinan itu, aku langsung tidak simpatik pada sang istri pejabat. Kalau memang tidak ingin tampil di publik dalam kondisi non formal, kenapa pula harus menampakkan diri (kayak hantu saja, penampakan). Lucunya, memakai mobil dinas pula. Bukankah tambah mudah dikenali (herrrann deh..). Tapi memang, aku lantas beranggapan bahwa ekspresi yang keluar dari perempuan itu karena dia terkaget-kaget dengan perubahan situasi yang baru dialaminya. Mendadak menjadi orang paling penting, mendadak dihormati banyak orang, mendadak dikenal banyak orang, dan mendadak mendadak lainnya. Boleh saja mengekspresikan rasa kaget sesukanya, tapi jangan terlalu lama. Dekatlah dengan rakyat, mereka yang memilihmu, yang membuatmu merasakan semua itu..sadarlah, jangan terlalu terbuai...
Mereka mengekspresikan rasa kaget atas jabatan yang diterima dengan banyak cara. Jika semula mereka ramah dengan semua orang, tiba-tiba menjadi tertutup. Jalan juga selalu menunduk dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Hal itu berbanding terbalik dengan saat mereka mencari simpati pada masyarakat dulu. Senyum selalu mengembang di bibir. Jurus sok dekat dengan masyarakat juga dilancarkan. Tidak hanya pada orang yang dikenal, orang yang tak dikenal didatangi, berkenalan. Ujung-ujungnya meminta dukungan.
Ibarat virus, tentu ada masanya. Virus sok dekat itupun langsung berakhir ketika mereka mendapat jabatan yang dikehendaki. Jika semula sok dekat langsung cuek dengan orang lain. Toh sudah tidak diperlukan lagi.
Baru-baru ini aku menemukan ekspresi kaget yang keluar dari salah satu istri pejabat penting di Kota Kediri. Tentunya istri pejabat yang baru saja mendapat jabatan. Suatu malam aku pergi ke salah satu supermarket di Kota Kediri. Mataku yang sibuk mencari barang buruan, langsung tertuju pada perilaku aneh salah seorang perempuan yang berkerung. Betapa tidak, dia jalan menunduk dengan separo muka ditutup kerudung. Beberapa kali bola matanya tampak bergeser ke kanan dan ke kiri entah apa yang dicari.
Melihat tingkah anehnya, aku yang biasanya cuek dengan lingkungan langsung memperhatikan. Aku pikir separo mukanya terkena luka bakar hingga harus ditutupi sambil menunduk pula. Atau mungkin bibirnya sumbing hingga malu memperlihatkan di tempat umum. Setelah aku perhatikan mendalam, rupanya tebakanku salah semua. Perempuan yang menutupi mukanya itu sehat-sehat saja. Parasnya yang meski paruh baya masih sangat cantik dan segar.
Setelah melihat sosok gadis cantik yang sedang antri di kasir, aku baru menyadari identitas perempuan yang mukanya ditutupi kerudung dan selalu menunduk itu. Rupanya, dia adalah istri salah satu pejabat terpenting (terpenting itu relatif lho) di Kota Kediri. Niatku untuk menyapa perempuan yang memang sudah ku kenal sebelumnya itu langsung ku urungkan. Aku pun cuek mengantri di kasir yang terletak persis disampingnya.
Beberapa menit mengantri benakku langsung berkecamuk. Memikirkan maksud sang istri pejabat bertingkah demikian. Ada beberapa alternatif yang ada di otakku saat itu. Pertama, mungkin dia malu berada di supermarket dan belanja barang kebutuhan rumah tangga, meski sebelumnya dia biasa melakukan itu. Bukankah, setelah suaminya menjadi pejabat penting di Kota Kediri, dia tinggal memesan melalui telepon dan belanjanya bisa langsung diantar? atau kalau tidak mau repot bisa langsung menyuruh stafnya yang kerjaannya lebih banyak nyengir menyenangkan hatinya.
Kemungkinan kedua, istri pejabat itu takut menjadi korban perampokan (ih..emang kaya), karena sebagai istri pejabat tentu dia mempunyai banyak uang. Kemungkinan ketiga, dia takut dimintai tanda tangan dan foto bersama para pengunjung supermarket yang kebetulan didominasi para perempuan (emang banyak yang kenal? sok tenar bener!).
Terlepas dari semua kemungkinan itu, aku langsung tidak simpatik pada sang istri pejabat. Kalau memang tidak ingin tampil di publik dalam kondisi non formal, kenapa pula harus menampakkan diri (kayak hantu saja, penampakan). Lucunya, memakai mobil dinas pula. Bukankah tambah mudah dikenali (herrrann deh..). Tapi memang, aku lantas beranggapan bahwa ekspresi yang keluar dari perempuan itu karena dia terkaget-kaget dengan perubahan situasi yang baru dialaminya. Mendadak menjadi orang paling penting, mendadak dihormati banyak orang, mendadak dikenal banyak orang, dan mendadak mendadak lainnya. Boleh saja mengekspresikan rasa kaget sesukanya, tapi jangan terlalu lama. Dekatlah dengan rakyat, mereka yang memilihmu, yang membuatmu merasakan semua itu..sadarlah, jangan terlalu terbuai...
Kamis, 26 Maret 2009
Amnesia
Siapa kamu? Aku tak mengenalmu...
Dimana kamu? Aku tak melihatmu..
Apa yang kamu lakukan? Itu bukan dirimu..
Aku bersamamu tapi aku tak merasakanmu..
Aku dirimu tapi kau bukan lagi aku..
Puluhan tahun jejak yang kau tinggalkan terhapus sejenak sapuan..
Langkahmu kini timpang, semakin mendekati pusaran..membenamkan..
Menolehlah ke belakang, aku bayanganmu..
Menolehlah ke belakang, kau tahu kau telah hilang..
Menengadahlah keatas..ada langit memayungimu..
Pejamkan mata dan rasakan hangatnya mentari yang menerangimu..
Berpijaklah..rasakan butir-butir tanah yang menahanmu..
Dimana kamu? Aku tak melihatmu..
Apa yang kamu lakukan? itu bukan lagi, bukan lagi dirimu..
Kembalilah..sisiri tepian, butir pasir akan menyadarkanmu..
Kembalilah..panas mentari akan membangkitkanmu..
Kembalilah..seperti yang dulu..dirimu, diriku..yang dulu.
Dedicated to my self..i just lost in the day light..i aint me anymore..
Dimana kamu? Aku tak melihatmu..
Apa yang kamu lakukan? Itu bukan dirimu..
Aku bersamamu tapi aku tak merasakanmu..
Aku dirimu tapi kau bukan lagi aku..
Puluhan tahun jejak yang kau tinggalkan terhapus sejenak sapuan..
Langkahmu kini timpang, semakin mendekati pusaran..membenamkan..
Menolehlah ke belakang, aku bayanganmu..
Menolehlah ke belakang, kau tahu kau telah hilang..
Menengadahlah keatas..ada langit memayungimu..
Pejamkan mata dan rasakan hangatnya mentari yang menerangimu..
Berpijaklah..rasakan butir-butir tanah yang menahanmu..
Dimana kamu? Aku tak melihatmu..
Apa yang kamu lakukan? itu bukan lagi, bukan lagi dirimu..
Kembalilah..sisiri tepian, butir pasir akan menyadarkanmu..
Kembalilah..panas mentari akan membangkitkanmu..
Kembalilah..seperti yang dulu..dirimu, diriku..yang dulu.
Dedicated to my self..i just lost in the day light..i aint me anymore..
Rabu, 25 Maret 2009
Calo
Kata-kata calo selalu didefinisikan dengan hal-hal yang kurang baik. Calo SIM, calo TKI, calo tanah, calo kendaraan, dan calo-calo lainnya. Calo, salah satu pekerjaan yang menjual jasa prinsipnya sama dengan penyedia jasa lainnya. Mereka menyediakan jasa dan mendapat imbalan sejumlah uang.
Meski sama-sama menyediakan jasa, calo tetap dianggap berbeda dengan biro penyedia jasa lainnya. Seorang karyawan biro jasa akan dengan senang hati menyebutkan identitas mereka. Tetapi calo akan melakukan dengan sembunyi-sembunyi. Bahkan, menyembunyikan identitasnya. Boleh jadi hal itu dilakukan karena mereka menyediakan jasa yang sesuai peraturan dilarang. Calo SIM contohnya.
Karena image calo yang jelek itu pula saya langsung tersulut ketika ada salah seorang teman lama berkomentar tentang profesi wartawan. "wartawan itu ibarat calo. memperjual-belikan berita," katanya tentang profesi wartawan.
Aku yang merasa tidak pernah melakukan hal itu, otomatis langsung marah. Entah karena temanku yg terlalu bodoh hingga tidak bisa membedakan calo berita dan wartawan yg benar, ataukah karena memang terlalu banyak wartawan yang melakukan praktik jual berita hingga masyarakat awam menilai demikian. Betapa hinanya..menyedihkan.
Sms yang kuterima dini hari itupun langsung membuat mataku terbelalak. Capek dan ngantuk yang menderaku langsung sirna. Dengan semangat aku langsung menjelaskan perbedaan antara wartawan sungguhan dan calo berita. Perdebatan kecil melalui sms langsung terjadi.
Beruntung temanku yang dungu itu masih kenal sifatku. Pergaulan selama tiga tahun di SMA membuatnya bisa mengerti diriku. Lantas satu kalimat penghibur ku terima. "Meski banyak wartawan yang seperti itu, aku tahu kamu tidak seperti itu," hiburnya.
Kalimat yang menurutnya mungkin menghiburku, justru menghentakku. Aku tidak bisa tidur. Beberapa tayangan film tengah malam ku lahap sambil merenung tentang profesi yang kugeluti sekarang. Sudah sedemikian hinakah wartawan? sudah sedemikian rendahkah wartawan? kenapa hal ini terjadi? siapa yang memulai? bagaimana mengakhiri?
Sepintas kemudian aku membandingkan perkataan temanku dengan situasi di pemkab Kediri sekarang. Aku bisa merasakan kebenaran perkataannya. Disini wartawan dianggap sama, diperlakukan sama. Doyan uang, peminta-minta, bahkan setengah memaksa. Tak heran, pandangan orang terhadap wartawan sama rendahnya dengan peminta-minta.
Bagaimana cara memberitahu mereka bahwa ada yg berbeda?
Mengapa tidak pernah ada yang meronta?
Bagaimana dengan yang sebelumnya?
Ataukah memang sama?BENCI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Meski sama-sama menyediakan jasa, calo tetap dianggap berbeda dengan biro penyedia jasa lainnya. Seorang karyawan biro jasa akan dengan senang hati menyebutkan identitas mereka. Tetapi calo akan melakukan dengan sembunyi-sembunyi. Bahkan, menyembunyikan identitasnya. Boleh jadi hal itu dilakukan karena mereka menyediakan jasa yang sesuai peraturan dilarang. Calo SIM contohnya.
Karena image calo yang jelek itu pula saya langsung tersulut ketika ada salah seorang teman lama berkomentar tentang profesi wartawan. "wartawan itu ibarat calo. memperjual-belikan berita," katanya tentang profesi wartawan.
Aku yang merasa tidak pernah melakukan hal itu, otomatis langsung marah. Entah karena temanku yg terlalu bodoh hingga tidak bisa membedakan calo berita dan wartawan yg benar, ataukah karena memang terlalu banyak wartawan yang melakukan praktik jual berita hingga masyarakat awam menilai demikian. Betapa hinanya..menyedihkan.
Sms yang kuterima dini hari itupun langsung membuat mataku terbelalak. Capek dan ngantuk yang menderaku langsung sirna. Dengan semangat aku langsung menjelaskan perbedaan antara wartawan sungguhan dan calo berita. Perdebatan kecil melalui sms langsung terjadi.
Beruntung temanku yang dungu itu masih kenal sifatku. Pergaulan selama tiga tahun di SMA membuatnya bisa mengerti diriku. Lantas satu kalimat penghibur ku terima. "Meski banyak wartawan yang seperti itu, aku tahu kamu tidak seperti itu," hiburnya.
Kalimat yang menurutnya mungkin menghiburku, justru menghentakku. Aku tidak bisa tidur. Beberapa tayangan film tengah malam ku lahap sambil merenung tentang profesi yang kugeluti sekarang. Sudah sedemikian hinakah wartawan? sudah sedemikian rendahkah wartawan? kenapa hal ini terjadi? siapa yang memulai? bagaimana mengakhiri?
Sepintas kemudian aku membandingkan perkataan temanku dengan situasi di pemkab Kediri sekarang. Aku bisa merasakan kebenaran perkataannya. Disini wartawan dianggap sama, diperlakukan sama. Doyan uang, peminta-minta, bahkan setengah memaksa. Tak heran, pandangan orang terhadap wartawan sama rendahnya dengan peminta-minta.
Bagaimana cara memberitahu mereka bahwa ada yg berbeda?
Mengapa tidak pernah ada yang meronta?
Bagaimana dengan yang sebelumnya?
Ataukah memang sama?BENCI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kamis, 19 Maret 2009
Kiai
Kata kiai sudah akrab ditelinga saya sejak kecil. Maklum rumah saya di Blitar, berada sekitar satu kilometer dari pesantren kecil. Pak kiai di pesantren tersebut selalu dipanggil abah oleh warga sekitar. Tak terkecuali saya yang dulu pernah ngaji disana (walaupun sesampainya di pondok selalu tertidur karena ceramahnya panjang).
Dimata penduduk sekitar desa saya, abah'e menjadi panutan. Mulai memilih hari idul fitri, memilih kades, dan pilihan-pilihan lainnya. Jangan heran kalau desa lain belum Iduf Fitri tapi desa saya sudah lebaran karena abah bilang sudah syawal.
Ibu saya yang baru jadi anggota muslimat ikut-ikutan latah. Apapun kata abah'e selalu diikuti. Katanya kalau mengikuti kiai selamat. Belakangan saya mulai risi karena ibu saya ikut-ikutan meminum air dari pesantren setempat yang sepengetahuan saya airnya sangat kotor. Sumurnya juga kurang terawat. Ibu saya nekat meminum air yang katanya mengandung do'a. Pengultusan kiai itu ternyata tak hanya terjadi di desa saya yang memang pedalaman. Tetapi juga di Kediri, kota yang ditumbuhi banyak pesantren.
Seolah terkontaminasi dengan kondisi kota, kiai disini jauh lebih canggih dari abah di desa saya. Kalau abah di desa saya hanya menyampaikan kandidat kades yang didukung melalui pengajian di pondok. Demikian juga saat terjadi pemilihan bupati.
Tapi kiai di Kediri lebih canggih. Mulai mengumpulkan para alumni untuk menghimpun kekuatan sampai membuat woro-woro berupa tausyiah agar santri dan para alumninya memilih kandidat yang dimaksud.
Dengan kegiatan tambahan yang dimiliki, pak kiai menjadi sangat sibuk. Seringkali pergi ke luar kota. Bukan untuk dakwah, tapi untuk konsolidasi! bertemu dengan para kiai untuk menyukseskan kandidat mereka. Pesantren ditinggalkan. Dakwah hanya diisi oleh pengurus pesantren yang seringkali dipanggil gus...gus... atau bahkan diisi oleh kang...dan kang...
The right man on the right place, saya melihat para kiai sudah terlalu jauh keluar dari peranannya. Memasuki ranah politik. Para poliTIKUS juga dengan senang hati menyambut mereka. Sebab kiai mampu memberi kontribusi signifikan bagi mereka..
Tapi sampai berapa lama praktik ini bisa bertahan?berapa lama para santri akan tunduk pada kiainya? termasuk ketika doktrin yang diberikan sang kiai berada diluar ketentuan agama? berapa lama pula masyarakat akan percaya dan mengikutinya?
Ibarat sebuah kurva, sesuatu hal akan mencapai titik kulminasi. Jika sudah tiba pada titik tersebut sudah tidak bisa naik lagi. Tetapi, perlahan-lahan akan turun dan terus turun hingga titik terdasar.
Saya mulai melihat kecenderungan itu. Setidaknya hal tersebut terlihat pada pilgub beberapa waktu lalu. Biasanya, jika seorang kiai memerintahkan untuk memilih kandidat A, maka 100 persen santri akan menurutinya. Tetapi, saat itu hanya sekitar 80 persen santri yang menurut sisanya memilih kandidat lain.
Sesuai kecenderungan kurva, saya yakin jumlah itu akan terus bertambah hingga akhirnya tidak ada sama sekali yang menurut pada kiai. Tentunya diluar ajaran agama yang disampaikan. Apakah saat itu kiai masih dikerubuti para poliTIKUS?apakah masih banyak pejabat yang meminta 'restu'?
Nyuwun duko mbah yai..kembalilah ke pesantren sebelum semua itu terjadi..
Dimata penduduk sekitar desa saya, abah'e menjadi panutan. Mulai memilih hari idul fitri, memilih kades, dan pilihan-pilihan lainnya. Jangan heran kalau desa lain belum Iduf Fitri tapi desa saya sudah lebaran karena abah bilang sudah syawal.
Ibu saya yang baru jadi anggota muslimat ikut-ikutan latah. Apapun kata abah'e selalu diikuti. Katanya kalau mengikuti kiai selamat. Belakangan saya mulai risi karena ibu saya ikut-ikutan meminum air dari pesantren setempat yang sepengetahuan saya airnya sangat kotor. Sumurnya juga kurang terawat. Ibu saya nekat meminum air yang katanya mengandung do'a. Pengultusan kiai itu ternyata tak hanya terjadi di desa saya yang memang pedalaman. Tetapi juga di Kediri, kota yang ditumbuhi banyak pesantren.
Seolah terkontaminasi dengan kondisi kota, kiai disini jauh lebih canggih dari abah di desa saya. Kalau abah di desa saya hanya menyampaikan kandidat kades yang didukung melalui pengajian di pondok. Demikian juga saat terjadi pemilihan bupati.
Tapi kiai di Kediri lebih canggih. Mulai mengumpulkan para alumni untuk menghimpun kekuatan sampai membuat woro-woro berupa tausyiah agar santri dan para alumninya memilih kandidat yang dimaksud.
Dengan kegiatan tambahan yang dimiliki, pak kiai menjadi sangat sibuk. Seringkali pergi ke luar kota. Bukan untuk dakwah, tapi untuk konsolidasi! bertemu dengan para kiai untuk menyukseskan kandidat mereka. Pesantren ditinggalkan. Dakwah hanya diisi oleh pengurus pesantren yang seringkali dipanggil gus...gus... atau bahkan diisi oleh kang...dan kang...
The right man on the right place, saya melihat para kiai sudah terlalu jauh keluar dari peranannya. Memasuki ranah politik. Para poliTIKUS juga dengan senang hati menyambut mereka. Sebab kiai mampu memberi kontribusi signifikan bagi mereka..
Tapi sampai berapa lama praktik ini bisa bertahan?berapa lama para santri akan tunduk pada kiainya? termasuk ketika doktrin yang diberikan sang kiai berada diluar ketentuan agama? berapa lama pula masyarakat akan percaya dan mengikutinya?
Ibarat sebuah kurva, sesuatu hal akan mencapai titik kulminasi. Jika sudah tiba pada titik tersebut sudah tidak bisa naik lagi. Tetapi, perlahan-lahan akan turun dan terus turun hingga titik terdasar.
Saya mulai melihat kecenderungan itu. Setidaknya hal tersebut terlihat pada pilgub beberapa waktu lalu. Biasanya, jika seorang kiai memerintahkan untuk memilih kandidat A, maka 100 persen santri akan menurutinya. Tetapi, saat itu hanya sekitar 80 persen santri yang menurut sisanya memilih kandidat lain.
Sesuai kecenderungan kurva, saya yakin jumlah itu akan terus bertambah hingga akhirnya tidak ada sama sekali yang menurut pada kiai. Tentunya diluar ajaran agama yang disampaikan. Apakah saat itu kiai masih dikerubuti para poliTIKUS?apakah masih banyak pejabat yang meminta 'restu'?
Nyuwun duko mbah yai..kembalilah ke pesantren sebelum semua itu terjadi..
Rabu, 18 Maret 2009
Untuk Penguasa
Berbaju Safari warna gelap kau melangkah tegap.
Beberapa orang dengan baju senada senantiasa mengikutimu dari belakang.
Pandangan matamu lurus ke depan. Sesekali kau lambaikan tangan pada orang di sekeliling.
Senyum tipis selama beberapa detik menyembul.
Selebihnya kau lebih suka bersembunyi dibalik kaca mata hitam.
Penguasa..semua orang mengikutimu, memberi semua maumu, menakutimu.
Penguasa..semua orang tunduk padamu, mengharapkanmu, menghormatimu.
Tapi tahukah kalau itu tidak padamu? sadarkah kamu?
Tahukah kamu itu bukan kamu? tidak untukmu?
Itu untuk kekuasaanmu, untuk wewenangmu, untuk semua yang ada padamu.
Terbayangkah kamu tanpa semua itu?
Terbayangkah tanpa itu bagaimana dirimu?bagaimana mereka?
Senja hampir tiba, malam mulai menjelang, tapi ku lihat kau tetap terjaga.
Kau tampak gelisah melihat sekeliling lalu menata langkah.
Kursi goyang dan tempat tidurmu yang rapi tak kau tempati.
Kau tampak sibuk kesana kemari, terus menari.
Tak sadarkah semakin malam akan semakin sunyi?
Tak tahukah iringan musik sebentar lagi berhenti?
Puluhan penari latar di belakangmu juga akan berlari?
Kenapa tidak memilih berhenti dan menata hati.
Kau bisa gunakan waktumu untuk merebah di ranjang wangi.
Sebelum semuanya terlambat, sebelum tenaga yang kau punya lewat.
Sadarlah, kau bukan segalanya, yang kau punya tidak selamanya.
Menolehlah, tersenyumlah....
Beberapa orang dengan baju senada senantiasa mengikutimu dari belakang.
Pandangan matamu lurus ke depan. Sesekali kau lambaikan tangan pada orang di sekeliling.
Senyum tipis selama beberapa detik menyembul.
Selebihnya kau lebih suka bersembunyi dibalik kaca mata hitam.
Penguasa..semua orang mengikutimu, memberi semua maumu, menakutimu.
Penguasa..semua orang tunduk padamu, mengharapkanmu, menghormatimu.
Tapi tahukah kalau itu tidak padamu? sadarkah kamu?
Tahukah kamu itu bukan kamu? tidak untukmu?
Itu untuk kekuasaanmu, untuk wewenangmu, untuk semua yang ada padamu.
Terbayangkah kamu tanpa semua itu?
Terbayangkah tanpa itu bagaimana dirimu?bagaimana mereka?
Senja hampir tiba, malam mulai menjelang, tapi ku lihat kau tetap terjaga.
Kau tampak gelisah melihat sekeliling lalu menata langkah.
Kursi goyang dan tempat tidurmu yang rapi tak kau tempati.
Kau tampak sibuk kesana kemari, terus menari.
Tak sadarkah semakin malam akan semakin sunyi?
Tak tahukah iringan musik sebentar lagi berhenti?
Puluhan penari latar di belakangmu juga akan berlari?
Kenapa tidak memilih berhenti dan menata hati.
Kau bisa gunakan waktumu untuk merebah di ranjang wangi.
Sebelum semuanya terlambat, sebelum tenaga yang kau punya lewat.
Sadarlah, kau bukan segalanya, yang kau punya tidak selamanya.
Menolehlah, tersenyumlah....
Selasa, 17 Maret 2009
Sexi Melanie
Seiring dengan perkembangan jaman teori pemasaran ternyata telah berkembang pesat. Untuk menentukan sebuah produk bisa kompetitif di pasar ternyata tak hanya dilihat dari unsur harga dan kualitas. Dua unsur itu ternyata tak bisa menjamin produk bisa laku keras di pasar. Terutama untuk produk dengan kompetitor yang beragam.
Dewasa ini 'kemasan' produk justru menjadi ujung tombak agar produk mereka bisa bersaing di pasaran. Berbagai cara untuk mempercantik kemasan terus dilakukan. Tak hanya kemasan produk, tetapi juga kemasan 'penjualnya'. Seperti yang saya lihat di kantor KPU siang tadi. Dua Sales Promotion Girl (SPG) berbusana sexi (baju tanpa lengan dan rok yang panjangnya sekitar 20 senti meter) dengan sepatu terbuka high heels. Dipadu dengan paras cantik dan kulit putih mulus, dua gadis itu berlenggak lenggok laksana diatas catwalk masuk ke kantor KPU.
Sepintas saya berpikir kalau mereka marketing dari salah satu hotel di Jatim (biasanya marketing hotel juga dandan sexi). Tapi setelah melihat dua slop rokok di tangan mereka, saya baru menyadari kalau mereka adalah SPG rokok.
Dalam hati saya langsung istighfar dan mengagumi strategi pemasaran pabrik rokok tersebut. Betapa hal itu menjadi strategi penjualan yang mengena. Bagaimana para pria tidak akan tergoda melihat dua gadis cantik merayu di depan mereka. Saat itu, teori pemasaran yang mengedepankan kualitas dan harga yang kompetitif tak lagi berlaku.
Setelah basa-basi sekitar 15 menit, dua gadis itu bisa menjual masing-masing dua slop rokok yang mereka bawa. Tak peduli harga rokok yang mereka tawarkan harganya bisa dua kali lipat di pasaran. Betapa tidak, kalau beli di pasar kita tidak bisa melihat tubuh sexi, bau parfum wangi, dan paras SPG yang cantik.
Jika untuk sekedar produk rokok mungkin hal itu bisa dipahami. Lalu bagaimana dengan produk-produk lainnya. Produk obat misalnya. Sekarang ini para sales obat juga tak kalah cantiknya. Mereka sangat telaten menunggu praktik dokter hingga larut malam. Yang membuat saya cemas, jika sampai dokter yang bersangkutan terpikat dengan SPG seperti halnya para pembeli rokok. Bagaimana nasib para pasien? bagaimana kesehatan mereka? berhati-hatilah...
Langganan:
Postingan (Atom)
